Mencari Kebenaran dengan Filsafat
Manusia
selalu berusaha menemukan kebenaran. Banyak cara telah ditempuh untuk
memperoleh kebenaran, antara lain dengan menggunakan rasio seperti para
rasionalis dan melalui pengalaman atau empiris. Pengalaman-pengalaman yang
diperoleh manusia membuahkan prinsip-prinsip yang terkadang melampaui penalaran
rasional, kejadian-kejadian yang berlaku di alam itu dapat dimengerti. Selain
selalu mencari kebenaran dalam kehidupan manusia selalu akan menghadapi godaan,
bahkan hidup itu sendiri adalah godaan. Untuk menghindari godaan itu adalah
dengan ilmu. Ilmu diperoleh dengan membaca dan pengalaman hidup. Jadi
pengalaman itu dapat membantu menemukan kebenaran dan juga menghindari godaan
dalam hidup.
Struktur
pengetahuan manusia menunjukkan tingkatan-tingkatan dalam hal menangkap
kebenaran. Setiap tingkat pengetahuan dalam struktur tersebut menunjukkan
tingkat kebenaran yang berbeda. Pengetahuan inderawi merupakan struktur
terendah. Tingkat pengetahuan yang lebih tinggi adalah pengetahuan rasional dan
intuitif. Tingkat yang lebih rendah menangkap kebenaran secara tidak lengkap,
tidak terstruktur dan pada umumnya kabur, khususnya pada pengetahuan indrawi
dan naluri. Oleh karena itulah pengetahuan ini harus dilengkapi dengan
pengetahuan yang lebih tinggi. Pada tingkat pengetahuan rasional ilmiah,
manusia melakukan penataan pengetahuannya agar terstruktur dengan jelas. Tingkatan
religius adalah kebenaran mutlak yang bersumber dari Tuhan yang Maha Esa dan
dihayati oleh kepribadian dengan integritas dengan iman dan kepercayaan.
Filsafat
adalah ilmu yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamya bagi segala
sesuatu berdasarkan pikiran atau rasio. Hal yang mendorong manusia untuk
berfilsafat adalah 1)keheranan; 2)kesangsian; 3)kesadaran akan keterbatasan
karena merasa dirinya sangat kecil, sering menderita dan sering mengalami
kegagalan. Hal ini mendorong pemikiran
bahwa di luar manusia yang terbatas, pasti ada sesuatu yang tidak
terbatas.
Tidak
semua orang mampu berfilsafat, orang yang akan mampu berfilsafat apabila memiliki
sifat rendah hati, karena memahami bahwa tidak semuanya akan dapat diketahui
dan merasa dirinya kecil dibandingkan dengan kebesaran alam semesta. Filsuf
Faust mengatakan : “Nah disinilah aku, si bodoh yang malang, tak lebih pandai
dari sebelumnya”. Socrates menyadari kebodohannya dan berkata “yang saya
ketahui adalah bahwa saya tak tahu apa-apa”. sifat selanjutnya adalah bersedia
untuk mengoreksi diri dan berani berterus terang terhadap seberapa jauh
kebenaran yang sudah dijangkaunya.
Untuk
bisa mencapai kerendahan hati yang sesungguhnya adalah dengan ikhtiar atau
usaha dan berserah diri kepada Allah SWT. Kita harus meminta pertolongan kepada
Allah SWT. karena tidak ada satupun manusia didunia ini yang mampu mengusir
setan dari dalam dirinya kecuali atas pertolongan Allah SWT. Godaan dari setan
ini bersifat terus menerus atau kontinu sehingga usaha kita untuk
menghindarinyapun harus terus-menerus.
Berfilsafat
adalah merenung, orang berfilsafat diibaratkan seperti seorang di malam hari
yang cerah memandang ke langit melihat bintang-bintang yang bertaburan dan
merenungkan hakekat dirinya dalam lingkungan alam semesta. Helmet berkata “ Ah
Horaito, masih banyak lagi di langit dan di bumi, selain yang terjaring dalam
filsafatmu”. Inilah karakteristik berpikir filsafat yaitu “menyeluruh”.
Seorang
yang picik akan merasa sudah memiliki ilmu yang sangat tinggi dan memandang
orang lain lebih rendah, atau meremehkan pengetahuan orang lain, bahkan
meremehkan moral, agama dan estetika. Orang yang berfilsafat seolah-olah
memandang langit sembari merenungkan bahwa betapa kecil dirinya dibandingkan
seisi alam semesta, bahwa betapa di atas langit masih ada langit, dan akhirnya
menyadari kekerdilan dan kebodohannya. Seperti Socrates berkata “ternyata saya
tidak tahu apa-apa”. selanjutnya Socrates berpikir filsafat yakni dia tidak
percaya bahwa ilmu yang sudah dimilikinya itu benar dan bertanya-tanya mengenai
apakah kriteria untuk menyatakan kebenaran? Apakah kriteria yang digunakan
tersebut sudah benar? Dan apakah hakekat kebenaran itu sendiri? Socrates
berpikir tentang ilmu secara mendalam dan ini merupakan karakteristik berpikir
filsafat yang kedua yaitu “mendasar”.
Pertanyaan–pertanyaan
tersebut berputar-putar dan melingkar yang seharusya mempunyai titik awal dan
titik akhir. Namun bagaimana menentukan titik awal? Akhirnya untuk menentukan
titik awal, kita hanya bisa berspekulasi. Inilah karakteritistik berpikir
filsafat selanjutnya yakni “spekulatif”.
Akhrinya
kita menyadari bahwa semua pengetahuan yang sekarang ada dimulai dari
spekulasi. Dari serangkaian spekulasi kita dapat memilih buah pikiran yang
dapat diandalkan yang merupakan titik awal dari penjelajahan pengetahuan.
Filsafat
juga merupakan ilmu olah pikir yang dilakukan oleh manusia sebagai insan Tuhan
yang dapat mengolah sebuah informasi dalam olah pikirnya. Pemikiran tingkat
dewa dapat dicapai manusia dengan mengerjakan apa yang dipikirkan dan
memikirkan apa yang dikerjakan. Ilmu filsafat itu berbeda dengan ilmu
matematika. Jika dalam matematika kita mengetahui bahwa setengah ditambah
dengan setengah adalah satu, dalam
filsafat setengah+ setengah+ setengah bernilai satu. Kerjakan apa yang ada
dipikiranmu itu bernilai setengah, memikirkan apa yang dikerjakan juga bernilai
setengah dan sisanya adalah berdoa memohon kepada Yang Maha Kuasa.
Berfilsafat
adalah cara untuk mengenal diri. Dengan berfilsafat kita akan terus berpikir
tentang segala hal yang ada pada diri sendiri sehingga segalanya menjadi dapat
diterjemahkan dan ada penjelasannya. Sesungguhnya tidak ada orang yang
benar-benar mengenal dirinya sendiri, yang ada hanya berusaha menngenal diri
sendiri. Cara mengenal diri sendiri
adalah dengan kerjakan apa yang engkau pikirkan dan pikirkan apa yang engkau
kerjakan. Selanjutnya doakan apa yang engkau pikirkan dan doakan apa yang
engkau kerjakan.
Socrates
mengatakan di dalam sebuah nasihatnya bahwa, kenali lah dirimu sendiri (Gnoti
Seauton). Menurut Socrates hanya manusia yang mengenal dirinnya sendirilah yang
kuat dan berguna, karena mereka akan mengenal kekuatan dan kelemahannya
sendiri, dan tidak akan membiarkan diri ditipu atau dikuasai oleh kejahatan,
baik akibat kebodohan atau karena “kepintaran” yang menyesatkan itu. Socrates,
karena itu, menegaskan bahwa : hanya manusia itu sendiri lah yang tahu bahwa ia
tidak tahu. Bagi Socrates, pikirkan hendaknya makin membuat orang untuk
mengenal dirinya sendiri sehingga tahu menegur dan menasihati diri sendiri,
bukan sebaliknua membuat orang lupa diri. Konsekuensinya, semakin tinggi dan luvjas
pikiran serta pengetahuan seorang manusia, semakin tinggi pula penguasaan diri
dan kesadaran diri “rendah diri” dalam ketekunan mengemban tugas kemanusiaannya
sebagai makhluk beradab.
Manusia,
disamping membutuhkan kerendahan hati, juga membutuhkan kesabaran, ketekunan, kesabaran
dan keteguhan bathin untuk menegur dan mendidik. Ia butuh kedisplinan, tanggung
jawab dan optimisme hidup di dalam mengejar pengetahuan atau kearifan dimaksud.
Filsafat, karena itu, hendak menunjukkan bahwa manusia bukan hanya bertugas
mengisi “ingin tahu”-nya dengan pikiran dan keterampilan-keteranpilan
teknologis (praktis operasional) yang sempit atau terbatas.
Namun
dalam mencari kebenaran pada kenyataannya manusia sering terjebak dalam
kesalahan. Sering kita dengar istilah stigma. Stigma adalah gejala bahasa.
Segala sesuatu itu adalah bahasa. Maka sebenar-benarnya dirimu adalah bahasamu.
Kamu akan menjadi baik atau buruk tergantung dari ucapanmu. Sama halnya dengan
pepatah yang mengaatakan “Mulutmu adalah harimaumu”. Bahasa itu bisa sehat dan
bisa sakit. Contoh bahasa sakit seperti Hoax. Dengan ilmu dan pengalaman yang
tidak memadai manusia bisa terjebak dalam Hoax. Baik hoax maupun stigma itu
berkonotasi negatif. Stigma itu determin menjatuhkan sifat, jadi keadaan yang
satu dijatuhkan dengan keadaan yang lain.
Kejadian
yang sering terjadi sekarang adalah menstigma kan seseorang padahal bukan itu
kenyataanya. Itulah sebetul-betulnya yang menjadi sesuatu lebih kejam daripada
pembunuhan. Maka harus hati-hati dalam menjatuhkan stigma kepada orang lain.
Dengan menjatuhkan stigma bisa menjadi pembunuhan karakter kepada seseorang.
Bahkan pemberian stigma ini bisa terjadi tanpa kita sadari.
Cara
kerja stigma adalah menggunakan pikiran karena stigma itu adalah bahasa dan
bahasa itu adalah pikiran. Seberapa pun bahasamu itu tidak akan mungkin
mengejar pikiran. Jadi sistem kerjanya stigma sama dengan sistem kerja pikiran.
Dan ternyata dunia ini persis seperti yang kau pikirkan, persis seperti yang
kau rasakan, persis seperti kau lihat, persis seperti yang engkau raba. Jadi
kita menganggap sesuatu itu baik atau buruk tergantung pikiran. Maka
biasakanlah untuk berpikiran positif. Dan berpikir positif bukanlah stigma.
Lalu siapa yang memproduksi stigma?
Sebesar-besar godaan manusia adalah bagi mereka yang berkuasa. Godaannya ialah
menggunakan kekuasaan, yang salah satunya adalah memproduksi stigma. Bahkan
stigma itu bisa berasal dari kegiatan gibah yang biasa manusia lakukan
sehari-hari. Maka kita harus sangat berhati-hati tentang stigma, jangan sampai
tanpa disadari kita menjatuhkan stigma pada orang lain.
Bagaimana
jika sesuatu yang negatif itu hanya untuk lelucon? Apakah itu bisa disebut
dengan stigma? Negatif itu ada batasanya begitu pula dengan lelucon harus ada
batasannya. Batasnya itu adalah ruang dan waktu yang ada dan yang mungkin ada.
Lelucon itu batasannya adalah ketidak lucuan bagi orang lain. Mungkin saja
sebuah lelucon bisa kita anggap lucu padahal bagi orang lain tidak lucu. Jadi
sesuai ajaran agama lebih baik mengerjakan sesuatu yang bermanfaat.
Tulisan di atas
merupakan hasil refleksi dari Perkuliahan Filsafat Ilmu dengan Prof. Dr. Marsigit, MA.