Monday, November 12, 2018

Mencari Kebenaran dengan Filsafat



Mencari Kebenaran dengan Filsafat
Manusia selalu berusaha menemukan kebenaran. Banyak cara telah ditempuh untuk memperoleh kebenaran, antara lain dengan menggunakan rasio seperti para rasionalis dan melalui pengalaman atau empiris. Pengalaman-pengalaman yang diperoleh manusia membuahkan prinsip-prinsip yang terkadang melampaui penalaran rasional, kejadian-kejadian yang berlaku di alam itu dapat dimengerti. Selain selalu mencari kebenaran dalam kehidupan manusia selalu akan menghadapi godaan, bahkan hidup itu sendiri adalah godaan. Untuk menghindari godaan itu adalah dengan ilmu. Ilmu diperoleh dengan membaca dan pengalaman hidup. Jadi pengalaman itu dapat membantu menemukan kebenaran dan juga menghindari godaan dalam hidup.
Struktur pengetahuan manusia menunjukkan tingkatan-tingkatan dalam hal menangkap kebenaran. Setiap tingkat pengetahuan dalam struktur tersebut menunjukkan tingkat kebenaran yang berbeda. Pengetahuan inderawi merupakan struktur terendah. Tingkat pengetahuan yang lebih tinggi adalah pengetahuan rasional dan intuitif. Tingkat yang lebih rendah menangkap kebenaran secara tidak lengkap, tidak terstruktur dan pada umumnya kabur, khususnya pada pengetahuan indrawi dan naluri. Oleh karena itulah pengetahuan ini harus dilengkapi dengan pengetahuan yang lebih tinggi. Pada tingkat pengetahuan rasional ilmiah, manusia melakukan penataan pengetahuannya agar terstruktur dengan jelas. Tingkatan religius adalah kebenaran mutlak yang bersumber dari Tuhan yang Maha Esa dan dihayati oleh kepribadian dengan integritas dengan iman dan kepercayaan.
Filsafat adalah ilmu yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran atau rasio. Hal yang mendorong manusia untuk berfilsafat adalah 1)keheranan; 2)kesangsian; 3)kesadaran akan keterbatasan karena merasa dirinya sangat kecil, sering menderita dan sering mengalami kegagalan. Hal ini mendorong pemikiran  bahwa di luar manusia yang terbatas, pasti ada sesuatu yang tidak terbatas.
Tidak semua orang mampu berfilsafat, orang yang akan mampu berfilsafat apabila memiliki sifat rendah hati, karena memahami bahwa tidak semuanya akan dapat diketahui dan merasa dirinya kecil dibandingkan dengan kebesaran alam semesta. Filsuf Faust mengatakan : “Nah disinilah aku, si bodoh yang malang, tak lebih pandai dari sebelumnya”. Socrates menyadari kebodohannya dan berkata “yang saya ketahui adalah bahwa saya tak tahu apa-apa”. sifat selanjutnya adalah bersedia untuk mengoreksi diri dan berani berterus terang terhadap seberapa jauh kebenaran yang sudah dijangkaunya.
Untuk bisa mencapai kerendahan hati yang sesungguhnya adalah dengan ikhtiar atau usaha dan berserah diri kepada Allah SWT. Kita harus meminta pertolongan kepada Allah SWT. karena tidak ada satupun manusia didunia ini yang mampu mengusir setan dari dalam dirinya kecuali atas pertolongan Allah SWT. Godaan dari setan ini bersifat terus menerus atau kontinu sehingga usaha kita untuk menghindarinyapun harus terus-menerus.
Berfilsafat adalah merenung, orang berfilsafat diibaratkan seperti seorang di malam hari yang cerah memandang ke langit melihat bintang-bintang yang bertaburan dan merenungkan hakekat dirinya dalam lingkungan alam semesta. Helmet berkata “ Ah Horaito, masih banyak lagi di langit dan di bumi, selain yang terjaring dalam filsafatmu”. Inilah karakteristik berpikir filsafat yaitu “menyeluruh”.
Seorang yang picik akan merasa sudah memiliki ilmu yang sangat tinggi dan memandang orang lain lebih rendah, atau meremehkan pengetahuan orang lain, bahkan meremehkan moral, agama dan estetika. Orang yang berfilsafat seolah-olah memandang langit sembari merenungkan bahwa betapa kecil dirinya dibandingkan seisi alam semesta, bahwa betapa di atas langit masih ada langit, dan akhirnya menyadari kekerdilan dan kebodohannya. Seperti Socrates berkata “ternyata saya tidak tahu apa-apa”. selanjutnya Socrates berpikir filsafat yakni dia tidak percaya bahwa ilmu yang sudah dimilikinya itu benar dan bertanya-tanya mengenai apakah kriteria untuk menyatakan kebenaran? Apakah kriteria yang digunakan tersebut sudah benar? Dan apakah hakekat kebenaran itu sendiri? Socrates berpikir tentang ilmu secara mendalam dan ini merupakan karakteristik berpikir filsafat yang kedua yaitu “mendasar”.
Pertanyaan–pertanyaan tersebut berputar-putar dan melingkar yang seharusya mempunyai titik awal dan titik akhir. Namun bagaimana menentukan titik awal? Akhirnya untuk menentukan titik awal, kita hanya bisa berspekulasi. Inilah karakteritistik berpikir filsafat selanjutnya yakni “spekulatif”.
Akhrinya kita menyadari bahwa semua pengetahuan yang sekarang ada dimulai dari spekulasi. Dari serangkaian spekulasi kita dapat memilih buah pikiran yang dapat diandalkan yang merupakan titik awal dari penjelajahan pengetahuan.
Filsafat juga merupakan ilmu olah pikir yang dilakukan oleh manusia sebagai insan Tuhan yang dapat mengolah sebuah informasi dalam olah pikirnya. Pemikiran tingkat dewa dapat dicapai manusia dengan mengerjakan apa yang dipikirkan dan memikirkan apa yang dikerjakan. Ilmu filsafat itu berbeda dengan ilmu matematika. Jika dalam matematika kita mengetahui bahwa setengah ditambah dengan setengah  adalah satu, dalam filsafat setengah+ setengah+ setengah bernilai satu. Kerjakan apa yang ada dipikiranmu itu bernilai setengah, memikirkan apa yang dikerjakan juga bernilai setengah dan sisanya adalah berdoa memohon kepada Yang Maha Kuasa.   
Berfilsafat adalah cara untuk mengenal diri. Dengan berfilsafat kita akan terus berpikir tentang segala hal yang ada pada diri sendiri sehingga segalanya menjadi dapat diterjemahkan dan ada penjelasannya. Sesungguhnya tidak ada orang yang benar-benar mengenal dirinya sendiri, yang ada hanya berusaha menngenal diri sendiri.  Cara mengenal diri sendiri adalah dengan kerjakan apa yang engkau pikirkan dan pikirkan apa yang engkau kerjakan. Selanjutnya doakan apa yang engkau pikirkan dan doakan apa yang engkau kerjakan.
Socrates mengatakan di dalam sebuah nasihatnya bahwa, kenali lah dirimu sendiri (Gnoti Seauton). Menurut Socrates hanya manusia yang mengenal dirinnya sendirilah yang kuat dan berguna, karena mereka akan mengenal kekuatan dan kelemahannya sendiri, dan tidak akan membiarkan diri ditipu atau dikuasai oleh kejahatan, baik akibat kebodohan atau karena “kepintaran” yang menyesatkan itu. Socrates, karena itu, menegaskan bahwa : hanya manusia itu sendiri lah yang tahu bahwa ia tidak tahu. Bagi Socrates, pikirkan hendaknya makin membuat orang untuk mengenal dirinya sendiri sehingga tahu menegur dan menasihati diri sendiri, bukan sebaliknua membuat orang lupa diri. Konsekuensinya, semakin tinggi dan luvjas pikiran serta pengetahuan seorang manusia, semakin tinggi pula penguasaan diri dan kesadaran diri “rendah diri” dalam ketekunan mengemban tugas kemanusiaannya sebagai makhluk beradab.
Manusia, disamping membutuhkan kerendahan hati, juga membutuhkan kesabaran, ketekunan, kesabaran dan keteguhan bathin untuk menegur dan mendidik. Ia butuh kedisplinan, tanggung jawab dan optimisme hidup di dalam mengejar pengetahuan atau kearifan dimaksud. Filsafat, karena itu, hendak menunjukkan bahwa manusia bukan hanya bertugas mengisi “ingin tahu”-nya dengan pikiran dan keterampilan-keteranpilan teknologis (praktis operasional) yang sempit atau terbatas.
Namun dalam mencari kebenaran pada kenyataannya manusia sering terjebak dalam kesalahan. Sering kita dengar istilah stigma. Stigma adalah gejala bahasa. Segala sesuatu itu adalah bahasa. Maka sebenar-benarnya dirimu adalah bahasamu. Kamu akan menjadi baik atau buruk tergantung dari ucapanmu. Sama halnya dengan pepatah yang mengaatakan “Mulutmu adalah harimaumu”. Bahasa itu bisa sehat dan bisa sakit. Contoh bahasa sakit seperti Hoax. Dengan ilmu dan pengalaman yang tidak memadai manusia bisa terjebak dalam Hoax. Baik hoax maupun stigma itu berkonotasi negatif. Stigma itu determin menjatuhkan sifat, jadi keadaan yang satu dijatuhkan dengan keadaan yang lain.
Kejadian yang sering terjadi sekarang adalah menstigma kan seseorang padahal bukan itu kenyataanya. Itulah sebetul-betulnya yang menjadi sesuatu lebih kejam daripada pembunuhan. Maka harus hati-hati dalam menjatuhkan stigma kepada orang lain. Dengan menjatuhkan stigma bisa menjadi pembunuhan karakter kepada seseorang. Bahkan pemberian stigma ini bisa terjadi tanpa kita sadari.
Cara kerja stigma adalah menggunakan pikiran karena stigma itu adalah bahasa dan bahasa itu adalah pikiran. Seberapa pun bahasamu itu tidak akan mungkin mengejar pikiran. Jadi sistem kerjanya stigma sama dengan sistem kerja pikiran. Dan ternyata dunia ini persis seperti yang kau pikirkan, persis seperti yang kau rasakan, persis seperti kau lihat, persis seperti yang engkau raba. Jadi kita menganggap sesuatu itu baik atau buruk tergantung pikiran. Maka biasakanlah untuk berpikiran positif. Dan berpikir positif bukanlah stigma.
 Lalu siapa yang memproduksi stigma? Sebesar-besar godaan manusia adalah bagi mereka yang berkuasa. Godaannya ialah menggunakan kekuasaan, yang salah satunya adalah memproduksi stigma. Bahkan stigma itu bisa berasal dari kegiatan gibah yang biasa manusia lakukan sehari-hari. Maka kita harus sangat berhati-hati tentang stigma, jangan sampai tanpa disadari kita menjatuhkan stigma pada orang lain.
Bagaimana jika sesuatu yang negatif itu hanya untuk lelucon? Apakah itu bisa disebut dengan stigma? Negatif itu ada batasanya begitu pula dengan lelucon harus ada batasannya. Batasnya itu adalah ruang dan waktu yang ada dan yang mungkin ada. Lelucon itu batasannya adalah ketidak lucuan bagi orang lain. Mungkin saja sebuah lelucon bisa kita anggap lucu padahal bagi orang lain tidak lucu. Jadi sesuai ajaran agama lebih baik mengerjakan sesuatu yang bermanfaat.
Tulisan di atas merupakan hasil refleksi dari Perkuliahan Filsafat Ilmu dengan Prof. Dr.  Marsigit, MA.

Friday, October 19, 2018

Melukis Bidang Irisan Prisma

https://drive.google.com/file/d/1vLqwbSB2rB9lIFeNbEQWCGL44J0L1VCg/view?usp=sharing